KisahBawang Merah & Bawang Putih bercerita tentang kakak dan adik yang memiliki sifat dan perangai sangat berbeda, serta mengenai ibu tiri yang tidak adil dan pilih kasih. Pesan moral dari cerita ini adalah segala perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk niscaya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
bantu kakakmu, bawang merah,” pinta ibunya. Cerita fabel bahasa jawa kancil lan monyet; Gambar Cerita Rakyat Bawang Merah Dan Bawang Putih Enak bae, iku ora bakal bawang putih! Cerita bawang merah bawang putih bahasa jawa singkat. Pada suatu pagi, sebelum pergi ke pasar, sang ibu menyuruh bawang putih dan bawang merah untuk menumbuk padi.
BawangMerah Bawang Putih. Malin Kundang 4. Timun Mas. Batu Menangis 2. Sangkuriang. Dec. 12. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Agar dapat memberikan komentar, klik tombol di bawah untuk login dengan Google. Login dengan Google
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Dongeng Bawang Merah Dan Bawang PutihRumah Dongeng kali ini mengisahkan tentang cerita yaitu Kisah Bawang Merah Dan Bawang Putih, selamat membaca. Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan Menarik LainnyaDongeng Burung Elang Dan Burung GagakDongeng Belalang Dan SemutDongeng Anjing Yang NakalNamun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.“Dasar ceroboh! bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan Bawang putih bertanya “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini?Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang. “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya, kata paman itu.“Baiklah paman, terima kasih! kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.“Permisi…! kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.“Siapa kamu nak? tanya nenek itu.“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang saya tinggal di sini malam ini? tanya Bawang putih.“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah? tanya nenek.“Ya nek. Apa…nenek menemukannya? tanya Bawang putih.“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu, kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana? pinta putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku, kata Bawang putih dengan seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah! kata Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil.“Saya takut tidak kuat membawa yang besar, katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsung merebut emas dan permata memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi.“Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu? tanya bawang itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang Juga Cerita Tentang TumbuhanAsal Mula Kisah Timun MasDongeng Asal-Usul Bunga KemuningDongeng Pengembara Dan Sebuah PohonCerita Bawang Merah Dan Bawang PutihTerimakasih telah membaca sampai selesai Cerita yang berjudul Dongeng Bawang Merah Dan Bawang Putih. Semoga cerita anak ini bermanfaat.
Bandung - Sate Maranggi khas Purwakarta dikenal karena perpaduan rasa manis dan gurih serta memiliki tekstur daging empuk. Belum lagi ditambah sambal tomat yang menjadi ciri dari Kemdikbud, sate maranggi sudah ada sejak dahulu dan mulai dijajakan pada tahun 1962 tepatnya di Kecamatan Plered oleh pedagang bernama Mang sate maranggi hanya menggunakan bahan dasar daging kerbau atau daging sapi, tetapi saat ini terdapat berbagai jenis varian jenis daging yang bisa dipilih seperti daging kambing domba dan daging ayam dengan ciri khas lemak dalam setiap tusukannya. Dari dulu sate maranggi memiliki bumbu khas dari rempah-rempah khusus dengan campuran kecap manis yang dibiarkan menyerap sempurna ke dalam daging sebelum menambah cita rasa, sate maranggi memiliki rasa pedas yang khas dan bisa disantap dengan tambahan sambal tomat, sambal oncom, ketan bakar maupun lontong dan nasi yang menjadi makanan pokok masyarakat maranggi memiliki dua cara penyajian bisa menggunakan bumbu dengan tekstur sedikit cair seperti sate pada umumnya bisa juga dengan kuah kecap dan kuah kacang sesuai pokokDaging sapi 500 gramLemak sapi 100 gramDaun pepaya 5 lembarTusuk sateRempah dan Bumbu HalusBawang putih 5 siungBawang merah 5 butirGula merah 50 gramAir asam jawa 1 sdmJahe secukupnyaLengkuas secukupnyaGaram secukupnyaCara Pembuatan Sate MaranggiDaging yang sudah disiapkan diiris kotak-kotak kecil atau sesuai selera dan pisahkan sesuai daging tersebut dengan daun pepaya dan diamkan selama kurang lebih tiga jam dengan tujuan daging menjadi lebih sudah ambil daging tersebut sesuai jenisnya dan balurkan dengan bumbu halus kemudian aduk sampai semua bumbu tercampur rata. Marinasi dalam kulkas selama minimal 30 daging satu persatu dengan tusuk sate lalu bakar di bawah bara api, grill atau pemanggang sambil sesekali diolesi kecap. Bakar bolak balik sampai matang merata, Tambahan Sate MaranggiBahan Kuah Kecap5 siung bawang merah1 tomat5 cabe rawitPenyedap RasaKecapCara PembuatanHaluskan semua bahan kecuali bumbu penyedap dan kecap sampai benar-benar bumbu yang sudah halus tersebut ditumis sampai mengeluarkan bau wangi/ baru masukkan kecap dan bumbu penyedap, simpan sebagai bumbu daging yang telah Kuah KacangKacang tanah secukupnya5 cabe merah5 siung bawang putihKemiriDaun salamCara PembuatanBawang putih dan kemiri ditumis dengan menggunakan sedikit minyak tumisan berbau harum, diangkat lalu haluskan dengan cabe merah dan kacang tanahBumbu selain kacang tanah, digerus cukup agak kasar tanah harus dihaluskan hingga benar-benar bahan diolah di katel dengan menggunakan sedikit minyak goreng dan diolah hingga Sate MaranggiBahan Sambal TomatCabe rawit 5Tomat merah 2GaramGula putihCara PembuatanCabe rawit, garam, dan gula putih digerus kasar lalu tambahkan tomat merah yang telah diiris dan aduk hingga menggunakan bahan mentah, daya tahan sambal tomat tidak terlalu lama. Pastikan akan disantap saat itu Acar MentimunBawang merah 3 siungCabe rawit 5MentimunWortelGula pasirGaramCuka makanCara PembuatanBawang merah dan wortel dikupas kulitnya. Setelah itu bersama mentimun dipotong kecil-kecil dengan ukuran yang hampir dan aduk gula pasir, garam, dan cuka ke dalam potongan-potongan bahan tersebut hingga merata. iqk/iqk
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. “Bawang Merah Bawang Putih” adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Indonesia yang bercerita tentang seorang gadis yang dianiaya oleh ibu tirinya sendiri yang pada akhirnya menikah dengan seorang pangeran tampan dan hidup bahagia. Begitu pun dengan cerita “Aschenputtel”. “Aschenputtel” merupakan cerita rakyat yang berasal dari Jerman yang bercerita tentang seorang gadis yang juga teraniaya oleh ibu tirinya dan pada akhirnya hidup bahagia dengan seorang pangeran. Cerita yang berjudul “Bawang Merah Bawang Putih” dan “Aschenputtel” merupakan cerita yang hampir memiliki kesamaan dari segi tokoh-tokoh dalam cerita, isi cerita serta akhir dari cerita tersebut. Pada cerita “Bawang Merah Bawang Putih” menceritakan tentang di suatu desa terdapat seorang gadis yang sangat cantik yang bernama Bawang Putih. Bawang Putih tinggal bersama ibu tiri dan saudara tirinya sedangkan ibu kandung dan ayahnya sudah lama meninggal pada saat itu. Ibu tiri dan anaknya yang bernama Bawang Merah sangatlah kejam dan selalu bertindak semena-mena kepada Bawang Putih. Bawang Merah dan ibunya sangat serakah dan mereka ingin merampas harta yang dimiliki Bawang Putih. Hampir semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Bawang Putih yang selalu disuruh oleh ibu tirinya dan Bawang Merah. Dari mulai memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, hingga mencuci baju. Suatu hari ibu tirinya menyuruh Bawang Putih mencuci baju disungai, tiba-tiba baju Bawang Merah yang dicuci Bawang Putih hanyut terbawa arus sungai. Betapa paniknya Bawang Putih, ia pun bergegas mencari baju itu sampai ketemu, namun baju tersebut tidak ketemu. Bawang Putih pun duduk di pinggir sungai dengan perasaan kecewa dan gelisah. Tiba-tiba muncullah seekor ikan mas di hadapan Bawang Putih. Bawang Putih pun terkejut karena sepertinya ikan mas itu bukan ikan biasa melainkan ikan ajaib karena bisa berbicara dengan manusia. Ia pun menghampiri dan bertanya kepada Bawang Putih atas sebab kegelisahannya. Bawang Putih pun menjawab dengan terbata-bata bahwa ia sedang mencari baju saudaranya yang hanyut di sekitar sungai tersebut. Ikan mas segera pergi dan kembali dengan membawa sehelai baju berwarna merah yang dicari-cari Bawang Putih. Betapa terkejutnya Bawang Putih karena baju tersebut ialah baju yang ia maksud dan ditemukan oleh si ikan mas. Bawang Putih sangat berterima kasih kepada ikan mas atas bantuannya dan ikan mas pun juga senang karena telah membantu dan menawarkan bantuan kepada Bawang Putih setiap saat ia butuh. Bawang Putih pun menerima tawaran tersebut dan segera pulang karena takut dimarahi oleh ibu tirinya jika terlalu lama. Ketika ia sampai di rumah, tiba-tiba ibu dan Bawang Merah memarahi Bawang Putih karena ia pulang terlalu sore. Beribu cacian dan cercaan dilontarkannya pada Bawang Putih. Bawang Putih pun hanya bisa diam dan harinya, ibu tiri menyuruh Bawang Putih untuk berbelanja di pasar, namun uang yang diberi ibu tirinya hanya sedikit, sedangkan yang harus dibeli begitu banyak. Bawang Putih pun bingung bagaimana mencukupi kebutuhan yang harus dibeli dengan hanya menggunakan uang yang begitu sedikit ia terima. Bawang Putih berusaha berpikir bagaimana caranya, lalu ia ingat terhadap ikan mas dan tanpa berpikir panjang ia langsung pergi ke sungai dan menemui ikan mas. Ternyata secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bawang Putih, Bawang Merah mengikuti dia dan tidak sengaja melihatnya sedang berbicara kepada ikan mas ajaib. Bawang Merah pun dengan cepat kembali ke rumah untuk menemui ibunya dan menyuruh ibunya membawa jalan. Bawang Putih bercerita tentang kesedihannya yang harus membeli kebutuhan yang telah disuruhnya di pasar sedangkan uang yang diberikan sedikit dan tidak mencukupi untuk membeli semua kebutuhan tersebut. Mendengar hal tersebut, ikan mas memberi sebuah kepingan emas kepada Bawang Putih dan menyuruhnya menjual kepingan tersebut ke pasar agar bisa membeli semua belanjaan yang ia tanggung. Bawang Putih sangat senang dan berterima kasih kepada ikan mas atas bantuannya. Kemudian Bawang Putih segera ke pasar dan meninggalkan ikan mas. Tiba-tiba Bawang Merah dan ibunya keluar dari persembunyiannya lalu menangkap ikan mas ajaib dengan kasar. Ikan mas menjerit merasa kesakitan, berusaha berteriak namun taka da yang menolongnya. Bawang Merah tertawa terbahak-bahak dan membawa ikan itu di rumah, Bawang Merah dan ibunya menggoreng ikan tersebut untuk diberikannya kepada Bawang Putih. Bawang Merah berteriak memanggil Bawang Putih dan memberikannya ikan mas yang sudah diggoreng itu dan menyuruhnya memakan ikan yang ia kira lauk pauk. Bawang Putih pun makan dengan perasaan heran walaupun rasanya lezat. Kemudian Bawang Merah menceritakan bahwa ikan yang dimakan Bawang Putih itu adalah sahabatnya sendiri, ikan mas. Betapa sedihnya Bawang Putih mendengar hal itu dan merasa bersalah. Segera dikuburnya kerangka ikan mas ajaib sahabatnya itu di halaman rumah, lalu kerangka ikan tersebut tumbuh menjadi pohon yang berdaun emas dan bertangkai harinya, ada seorang pangeran yang sedang mengitari desa dan melihat pohon tersebut. Ia pun langsung menanyakan kepada Bawang Merah siapa yang menanam pohon tersebut. Dengan bangganya, Bawang Merah mengakui bahwa dirinyalah yang menanam pohon tersebut. Sang pangeran lalu mengadakan sayembara, barangsiapa yang bisa mencabut pohon tersebut akan dijadikan permaisuri jika seorang perempuan, namun jika laki-laki akan dijadikan saudara. Banyak warga yang menghampiri rumah tersebut dan mencoba mencabut pohon tersebut, akan tetapi tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut bahkan sampai pria besar sekalipun tidak sanggup. Bawang Merah pun mencoba mencabut pohon tersebut di depan sang pangeran akan tetapi tidak bisa. Pada saat itu Bawang Putih pun keluar dan berkata bahwa ia bisa mencabut pohon tersebut. Sang pangeran terkesima melihat Bawang Putih atas kecantikannya. Dengan yakin Bawang Putih melakukannya dan hasilnya pohon yang berdaun emas dan bertangkai perak itu pun tercabut. Melihat hal tersebut, warga pun pada kaget dan sang pangeran lalu menetapkan bahwa Bawang Putih lah yang akan menjadi permaisurinya. Bawang Putih pun dibawa ke istana oleh sang pangeran dan meninggalkan rumahnya, Bawang Merah, dan ibu tirinya yang telah berlaku kejam terhadapnya. Bawang Putih pun hidup bahagia di istana dengan sang pangeran, sedangkan Bawang Merah hanya bisa iri hati dan hidup melarat dengan ibunya. Begitu juga dengan cerita “Aschenputtel”. Suatu ketika seorang istri saudagar yang kaya raya mendapati dirinya akan menemui ajal. Si gadis kecil bernama Aschenputtel hanya bisa menangisi kepergian ibu yang dicintainya dengan berbagai nasihat yang diberikan oleh ibunya, sampai pada akhirnya ibunya yang baik meninggal. Tahun demi tahun telah berlalu, sang saudagar kayapun sudah menikah kembali. Ia menikahi seorang janda yang telah memiliki dua anak gadis. Namun begitu, mereka sangatlah kejam dan tidak berperikemanusiaan terhadap Aschenputtel. Mereka sering memaksa si gadis yang telah tumbuh dewasa dan cantik itu untuk membersihkan lantai dan perapian sehingga wajahnya yang cantik sering terlihat kotor, kusut, kumal, dan legam karena sisa bara dari perapian. Setiap kali Aschenputtel selesai membersihkan perapian, maka setiap kali itu pula kedua saudari tirinya melempar hingga berserakan kacang polong di atas lantai sehingga ia harus kembali membersihkannya, begitulah hal itu berulang kembali setiap harinya. Suatu hari si saudagar kaya kembali ke rumahnya setelah sekian lama berdagang di kota. Ketiga anak beranak, si ibu tiri dan kedua anaknya yang pandai mengambil hati si saudagar sibuk menghampirinya sambil taklupa memuji, menyanjung, dan berbasa-basi dengannya. Memang sudah demikian perangai ketiga anak beranak itu setiap kali si saudagar kembali dari kota. Namun tidak demikian dengan Aschenputtel, dia tetap saja sibuk dengan urusan rumah dan dapur, baju yang lusuh dan compang-camping berbanding terbalik dengan baju yang dikenakan ibu dan kedua saudara tirinya, serba indah dan mahal. Mereka juga selalu mengenakan perhiasan yang gemerlap, dibandingkan dengan Aschenputtel yang tidak memakai perhiasan apapun kecuali penjepit rambut. Si saudagar bertanya kepada dua anak tirinya, “Apa yang kalian minta dari ayah bila ayah nanti kembali lagi dari kota?”. “Aku minta dibelikan kalung emas yang bertahtakan mutiara ayah”, jawab si sulung. “Kalau aku minta dibelikan gau pesati dari sutra yang paling mahal ayah”, jawab si adik sekenanya. Kemudia si saudagar menghampiri putrinya Aschenputtel dan bertanya, “Dan kau putriku Aschenputtel, apa yang kau pinta?”. “Aku? Yang aku pinta hanya sebatang ranting pohon pir ayah..”, jawabnya. Ayahnya bingung mendengar pinta putrinya, lalu ia bertanya kembali untuk meyankinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar, ”Sebatang ranting pohon pir?”. “Ya, sebatang ranting pohon pir yang jatuh tepat di atas topi ayah”, jawab Aschenputtel cepat. Ayahnya pun langsung mengabulkan menanam ranting pohon pir itu dalam tanah yang basah oleh air matanya, di atas pusara ibunya tercinta. Ranting pohon pir itu tumbuh dengan cepatnya dan dalam waktu yang tak begitu lama, ranting itu tumbuh menjadi pohon pir yang besar, rindang, dan meneduhkan. Aschenputtel selalu dating dan duduk di bawah pohon pir itu. Ia selalu menangis di bawah pohon pir itu seraya berkata, “Oh ibu, hidupku selalu saja merana sejak kau meninggalkanku”. Anehnya, setiap kali ia dating ke tempat itu, seekor merpati putih juga muncul dan terbang mengelilingi dan menghampirinya. Sampai suatu hari, datanglah undangan pesta dansa dari kerajaan untuk kedua putri tiri si saudagar kaya. Raja mengundang mereka karena anaknya, sang pangeran akan memilih pengantinnya di dalam pesta tersebut. Si sulung yang mendengar undangan tersebut kegirangan, lalu teriak memanggil Aschenputtel untuk menata rambut semua saudara tirinya sambil menyiapkan gaun mereka. Aschenputtel pun menghampiri dengan segera kedua saudara tirinya dan mengerjakan apa yang mereka perintahkan. Ia pun telah mendengar kabar undangan pesta dansa itu karena sedari tadi kedua saudari tirinya begitu ributnya membicarakan hal itu. Setelah selesai dengan urusan dua saudari tirinya, ia menghampiri ibu tirinya dan meminta diizinkan juga untuk datang ke pesta tersebut merengek-rengek. “Dasar anak taktahu diuntung, sudah bagus aku masih megizinkan kau tinggal disini bukan di kandang babi sana! Tidak bisa! Tidak akan pernah ada pesta untuk kau anak jelek!”. Aschenputtel tak mau mengalah lagi kali ini, ia pun merengek terus pada ibu tirinya. Tidak tahan dengan rengekan yang begitu menganggu kupingnya, maka si ibu tiri dengan terpaksa mengabulkan permintaan Aschenputtel dengan satu syarat, yaitu bila dia bisa mengumpulkan kacang polong dari perapian dalam waktu dua jam maka dia dibolehkan pergi ke pesta tersebut. Ibu tiri sambil tertawa ia melemparkan seluruh kacang tersebut yang telah dikumpulkan oleh Aschenputtel sebelumnya ke dalam abu perapian. Ia mengambil dan mengumpulkan ke dalam tampah semua abu yang tercampur dengan kacang polong dan berlari bertumpu pada kedua lututnya sambil memeluk pohon pir besar di hadapannya. Hatinya pilu dan isak keputus-asaan menyebar di langit sekelilingnya. “Oh burung merpatiku dan semua burung dalam naungan pohon pir ini, tolonglah aku mengumpulkan kacang polong dari dalam abu perapian ini.. Tolonglah aku..” Ajaibnya, semua burung tanpa membuang waktu mulai mengumpulkan dan memisahkan kacang polong dari dalam abu. Aschenputtel takjub dan gembira, dalam sekejap semua kacang tersebut telah terkumpul dalam tampah segera berlari menghampiri ibu tirinya dan memberikan tampah yang telah berisi semua kacang polong itu. Ibu tirinya terheran-heran mengapa Aschenputtel dapat begitu cepat mengumpulkan semua kacang tersebut, padahal ia telah memperhitungkan bahwa hal itu memerlukan waktu lebih dari 2 jam, bahkan mungkin seharian. Sebentar kemudian ibu tirinya tersenyum menyeringai bahwa Aschenputtel tidak masalah untuk pergi ke pesta karena ia tidak mempunyai gaun untuk pesta dansa nanti malam. Aschenputtel baru tersadar, ternyata baju yang ia kenakan selama ini adalah baju satu-satunya yang ia miliki. Betapa remuk hatinya, ia pun berlari lagi menuju pusara ibunya, perasaannya kali ini lebih hancur lagi karena kepada siapa lagi ia dapat meminta beberapa lama kemudian, beberapa ekor merpati datang dengan membawa sebuah gaun yang begitu indah berwarna perak keemasan dan beberapa ekor lagi membawakan sepasang sepatu perak dan emas. Bukan main gembiranya hati Aschenputtel, seperti ikan yang masuk lagi ke dalam air setelah jatuh ke atas tanah. Aschenputtel pun datang menuju ke istana diterbangkan oleh merpati-merpati sahabatnya. Ia datang dalam pesta itu dan segera menjadi pusat perhatian sang pangeran karena wajahnya yang cantik, rambut hitamnya yang tertata rapi nan indah, dan menawan. Gaunnya paling indah daripada para undangan yang datang ke pesta malam itu, bahkan ibu dan kedua saudari tirinya tidak dapat mengenali dirinya karena ia memang begitu cantik bak putri seorang raja. Sang pangeran pun langsung terpikat hatinya dan mengajaknya berdansa. Malam itu, sang pangeran berdansa sepanjang malam dengan Aschenputtel diiringi musik yang indah. Sampai akhirnya waktu berpisah sang pangeran menanyakan rumah tempat tinggal Aschenputtel untuk diantar pulang dan ingin mengenal dia lebih jauh lagi. Akan tetapi Aschenputtel meminta maaf tidak memberitahukannya kepada sang pangeran dengan beralasan ia sudah terbiasa pulang sendirian. Tetapi malam sudah larut dan pangeran tidak melihat adanya kereta kuda di luar sana yang dapat mengantar Aschenputtel. Tak ada alasan lagi Aschenputtel pun pergi berlari dengan terburu-buru untuk pulang ke rumahnya, akan tetapi sepatu sebelah kirinya yang terbuat dari emas tertinggal. Sang pangeran pun mengejar Aschenputtel dan diberhentikannya dengan menemukan sepatu emas nan indah harinya, sang pangeran memberikan pengumuman barangsiapa yang dapat mengenakan sepatu emas tersebut dengan pas dan cocok, maka dia akan dijadikan pengantin sang pangeran, dan menjadi ratu di kemudian hari. Tentu saja pengumuman itu membuat seisi desa terkejut, tidak terkecuali Aschenputtel. Keterkejutan itu secara spontan berubah menjadi rasa antusias bagi si ibu dan kedua saudari tiri Aschenputtel, maka berlomba-lombalah si sulung dan adiknya meyakinkan sang pangeran bahwa merekalah pemilik sepatu itu. Dari seluruh perempuan di desa tidak ada satu pun yang cocok dan pas mengenakan sepatu emas tersebut, tak terkecuali si anak sulung yang mencobanya akan tetapi sepatu itu tidak muat oleh karena kakinya terlalu besar seperti kaki gajah. “Sudah kau potong saja ibu jari kakimu, kehilangan satu ibu jari apalah artinya bila kau bisa menjadi putri di istana raja!”, perintah ibunya cepat. Tanpa berpikir panjang segera saja si sulung memotong ibu jari kakinya. Walau terasa sangat sakit, hal itu seperti tak dirasakannya, asalkan ia bisa menjadi pengantin sang bangganya ia berjalan menghampiri sang pangeran dan memperlihatkan di hadapannya bahwa memang dialah pemilik sepatu itu. Disaat sang pangeran hampir mempercayainya, seekor burung merpati terbang rendah di atas kepalanya dan berkata, “ Dia bohong, dia bukanlah pengantinmu, dia telah memotong ibu jarinya agar pas dengan sepatu itu.” Maka sang pangeran segera mencopot sepatu tersebut. Ia pun mencari-cari kembali seisi rumah tersebut dan menemukan Aschenputtel sedang membersihkan lantai dari sisa abu perapian. Ibu tiri mencegah sang pangeran dan memberitahu bahwa Aschenputtel tak pantas bertemu dengan sang pangeran karena kekotorannya dan bau. Akan tetapi sang pangeran memaksa untuk bertemu dan berbicara dengan pun tertunduk karena ia malu dan takut menatap mata sang pangeran. Ia tetap saja membersihkan lantai ketika sang pangeran berjalan menghampirinya, peluh jatuh dimana-mana, pikirannya jauh melayang, menerka-nerka apa kiranya yang akan dikatakan sang pangeran. Ketika sang pangeran berdiri tepat di hadapannya baru ia menghentikan kerjanya. Sang pangeran memohon kepada Aschenputtel untuk mengenakan sepatu emas tersebut, akan tetapi Aschenputtel meminta maaf dan menolak dengan halus karena ia merasa tak pantas mengenakan sepatu yang begitu indah tersebut. Sang pangeran pun melihat tatapan Aschenputtel dan mengingatkan kembali sorot mata yang indah namun memendam kesedihan teramat dalam, mengundangnya untuk memberikan secercah kebahagiaan. Sang pangeran pun membantu Aschenputtel untuk mengenakan sepatu emas itu. Ternyata sepatu emas itu pas dan serasi dengan kakinya yang indah. Sang pangeran pun terkejut dan bahagia karena telah menemukan pengantinnya yang ia cari-cari. Aschenputtel pun juga bahagia, tak terasa air mata meleleh di kelopak mata mereka berdua yang saling dan sang pangeran akhirnya menikah dengan perayaan secara kerajaan lengkap. Di hari yang berbahagia itu, ibu dan saudari tirinya yang kejam datang ke pesta pernikahan itu, sambil mencoba memenangkan hati sang pangeran dan berharap sedikit kemuliaan dari kerajaan tapi alih-alih mereka mendapat balasan yang setimpal, badan terluka dan gaun-gaun terkoyak karena serangan sekelompok burung merpati, sahabat Aschenputtel, yang tak sudi melihat mereka menganggu jalannya pesta. Hidup mereka berakhir dalam kesengsaraan sedangkan Aschenputtel dan sang pangeran pun hidup bahagia kedua cerita tersebut, dapat ditemukan banyaknya persamaan. Tokoh utama yaitu seorang gadis yang sama-sama memiliki saudari tiri dan ibu tiri, dan sama-sama memiliki kehidupan yang mengenaskan karena harus dibudaki oleh saudari tirinya dan ibu tirinya sendiri. Terdapat pula tokoh hewan ajaib yang membantu kedua gadis tersebut dalam hidupnya dan sama-sama menjadi permaisuri atau pengantin seorang pangeran. Kedua cerita tersebut sama-sama memiliki akhir yang bahagia yaitu menikah dengan sang pangeran dan tinggal di istana, sedangkan saudari dan ibu tirinya harus berakhir dengan kesengsaraan. Pesan moral yang dapat dipetik dari dua cerita tersebut adalah janganlah hendaknya kita hidup di dunia ini dengan penuh nafsu duniawi dan juga menyiksa seseorang yang tak bersalah kepada kita karena Tuhan melihat dari sana dan akan memberikan hal yang setimpal dengan apa yang kita perbuat. Karma does exist. Lihat Pendidikan Selengkapnya
komentar cerita bawang merah dan bawang putih